Lihat juga
Ketegangan di kawasan Timur Tengah melonjak dengan drastis pada akhir pekan kemarin setelah Presiden Trump menyarankan, dalam sebuah konferensi pers pada 26 Maret, untuk menyita Pulau Kharg yang dimiliki Iran, tempat di mana 90% ekspor minyak Iran berproses. Tindakan ini bisa menandakan peralihan dari serangan jarak jauh menuju konfrontasi langsung yang bertujuan untuk mengendalikan sumber daya.
Akan tetapi, respons pasar hingga saat ini masih tampak cukup tenang. Harga minyak memang mengalami kenaikan, tetapi tidak secara signifikan, dan belum mencapai puncak tertinggi seperti di tahun 2008; pasar saham menunjukkan reaksi yang lemah, dan estimasi pendapatan tetap menunjukkan ketahanan. Semua ini perlu disesuaikan terlebih dahulu dalam penilaian harga, baru setelahnya kita mungkin akan menyaksikan pergerakan yang kuat.
Posisi beli total terhadap dolar AS mengalami peningkatan sebesar $1,2 miliar selama minggu pelaporan, menjadi $7,4 miliar, yang merupakan kenaikan kecil jika dibandingkan dengan tiga minggu yang lalu, tetapi tetap saja merupakan sebuah peningkatan. Masih belum jelas bagaimana tindakan berisiko di Teluk Persia ini akan berdampak pada ekonomi AS, bagaimana reaksi negara-negara lain, dan apakah hal ini justru akan menyebabkan efek sebaliknya, di mana AS menstimulasi percepatan de-dolarisasi alih-alih mempertahankan kontrol atas sektor energi. Saat ini, semua masih dalam keadaan tidak pasti; kita akan bergantung pada data yang akurat, berita terbaru, dan pergeseran dalam arus mata uang.
Untuk berita ekonomi, data utama akan dirilis menjelang akhir pekan. Indeks ISM untuk bulan Maret, laporan ADP mengenai payroll sektor swasta, data pemutusan hubungan kerja dari Challenger, neraca perdagangan, nonfarm payrolls, dan sejumlah indikator sekunder akan dipublikasikan. Data-data ini berpotensi menunjukkan gambaran yang kurang menarik berupa perlambatan pertumbuhan yang disertai kenaikan inflasi, yaitu secara keseluruhan mengarah pada stagflasi.
Survei konsumen Michigan yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan penurunan tajam sentimen konsumen dan, pada saat yang sama, kenaikan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan, yang secara keseluruhan mengonfirmasi ancaman stagflasi. Suasana hati konsumen bukan sekadar pesimistis, tetapi sudah sebanding dengan periode-periode ekonomi terburuk.
Futures Fed funds mengimplikasikan bahwa suku bunga saat ini akan dipertahankan hingga akhir 2027; sejauh ini belum ada perubahan dalam ekspektasi tersebut.
Imbal hasil obligasi meningkat terus-menerus dalam sebulan terakhir, dan pada hari Senin, dibuka kembali dengan kenaikan yang baru. Bagi Amerika Serikat, di mana yield Treasury 10 tahun hampir mencapai 4,5%, ini merupakan masalah signifikan — cepatnya pertumbuhan utang publik bersamaan dengan lonjakan yield secara drastis menambah beban anggaran, sementara anggaran itu sendiri sudah berada dalam keadaan defisit yang parah. Masalah ini perlu diatasi dengan cara yang dapat diterima dalam beberapa bulan ke depan; jika tidak, Amerika Serikat akan bergerak lebih cepat menuju situasi gagal bayar.
Para investor berasumsi bahwa kenaikan harga minyak saat ini baru merupakan tahap pertama dari krisis energi berkepanjangan. Pasar saham AS pada hari Jumat mengalami penurunan terbesar sejak Januari karena kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut; S&P 500 turun ke level terendah sejak September 2025.
Untuk saat ini, kita berangkat dari hal yang jelas — situasi sekarang mendukung penguatan lebih lanjut nilai dolar.