Lihat juga
S&P 500 dan Nasdaq menutup sesi dengan penurunan tipis, merespons rilis terbaru data makroekonomi AS yang lemah. Perlambatan indikator ekonomi tersebut langsung tercermin di pasar FX, membuat dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama.
Dengan latar belakang ini, para investor secara tajam menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve, dan mulai memperhitungkan kemungkinan jeda dalam siklus kenaikan suku bunga. Arus modal keluar dari aset berisiko menuju surat berharga safe-haven mendorong kenaikan harga US Treasury dan penurunan imbal hasilnya. Detail lebih lanjut tersedia pada tautan.
Konfrontasi geo-ekonomi antara ekonomi terbesar dunia memasuki tahap baru: pemerintah AS secara resmi menuduh lebih dari empat puluh negara berpartisipasi dalam skema yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Tiongkok menghindari tarif bea masuk AS. Washington memperketat penegakan hukum terhadap re-ekspor dan jalur pengelakan lainnya, sehingga meningkatkan tekanan pada para mitra internasionalnya.
Seiring dengan pembatasan perdagangan, perlombaan untuk memimpin teknologi maju juga tengah berlangsung. Sementara Gedung Putih bersiap mengumumkan pembaruan strategi nasional AI, Tiongkok terus menunjukkan kemajuan mengesankan dalam mengembangkan solusi teknologi lokal dan menekan biaya produksi, sehingga mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat. Detail lebih lanjut tersedia pada tautan.
Harga logam mulia kembali melanjutkan kenaikan, mencapai $4.450 per ounce di tengah ketidakpastian politik dan moneter yang berkelanjutan di Amerika Serikat. Investor mengkhawatirkan independensi bank sentral, mekanisme FIMA, serta intervensi mata uang oleh AS dan Jepang — langkah‑langkah yang dipandang pasar sebagai bentuk terselubung quantitative easing. Dalam kondisi seperti ini, emas secara tradisional diuntungkan sebagai aset lindung nilai utama; bank sentral global membeli emas dalam jumlah rekor, yakni 51 ton pada bulan Juni.
Tiongkok menjadi pendorong tersendiri, dengan impor emas yang menembus rekor tertinggi sebagai bagian dari strategi Beijing untuk menginternasionalisasi yuan dan membangun alternatif terhadap sistem dolar. Menurut perkiraan BofA, permintaan investasi saat ini menopang harga di kisaran $4.000, dan untuk menembus di atas $5.000 dibutuhkan percepatan pembelian oleh para investor sekitar 21% secara tahunan. Detail lebih lanjut tersedia pada tautan.
Putaran eskalasi baru antara AS dan Iran, termasuk ancaman terhadap Oman dan laporan penyitaan kapal tanker UEA, memicu lonjakan harga minyak Brent hingga menembus level psikologis $91 per barel. Lonjakan harga energi tersebut langsung menyulut kekhawatiran inflasi di kalangan investor, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam beberapa tahun di 5,31% dan memicu penurunan pada kontrak berjangka indeks saham utama AS.
Di tengah tekanan terhadap saham, hanya sektor energi yang mampu mempertahankan momentum positif, dengan perusahaan minyak dan gas besar sebagai pihak yang diuntungkan. Ke depan, pelaku pasar menghadapi pekan yang sibuk: laporan kinerja dari raksasa ritel Walmart, Home Depot, dan Target akan memberikan gambaran tentang kesehatan konsumen AS, sementara publikasi risalah pertemuan The Fed akan mengungkap perdebatan internal di bank sentral mengenai suku bunga. Bagi mereka yang berencana memperdagangkan peristiwa volatil ini, perdagangan minyak dan indeks saham tersedia di InstaTrade. Detail lebih lanjut terdapat pada tautan.