Harga minyak anjlok seiring dengan dimulainya kembali transit kapal tanker melalui Selat Hormuz
Pasar energi global dengan cepat kembali normal. Dimulainya kembali transit melalui Selat Hormuz mengancam akan membanjiri pasar dengan minyak tepat ketika kilang-kilang minyak mulai mengamankan pemasok alternatif.
Menurut Bloomberg, di tengah kondisi yang stabil, harga Brent anjlok 30% pada kuartal kedua, kehilangan premi yang diperoleh selama konflik sepenuhnya. Pada hari Jumat lalu, harga berjangka diperdagangkan di bawah $72 per barel, menuju angka $60 yaitu level yang belum pernah terlihat sejak bulan Januari.
Sumber-sumber terpercaya melapoprkan bahwa kekuatan-kekuatan besar Eropa telah menerima kenyataan baru ini, mereka mengakui bahwa mereka harus membayar biaya transit kepada Iran dan Oman untuk jalur kapal tanker melalui Selat Hormuz. Analis memperingatkan bahwa logistik awal mungkin tidak stabil karena penyesuaian di pasar asuransi dan kemacetan yang tersisa. Namun, operator komersial sudah menilai risiko pengiriman sebagai hal yang dapat dikelola dan sedang berupaya memulihkan rute-rute yang sudah dikenal.
Sementara itu, bank-bank investasi besar memprediksi kelebihan pasokan yang signifikan di pasar. Goldman Sachs memprediksi surplus minyak mentah seiring dengan pulihnya lalu lintas Timur Tengah, sementara Morgan Stanley telah memangkas prediksi mereka sebanyak dua kali dalam beberapa pekan terakhir karena risiko-risiko ini. Analis Citi telah mengeluarkan penilaian yang paling keras, sangat merekomendasikan penjualan minyak apabila jika terjadi pemulihan di musim panas dan memperkirakan harga Brent dapat turun menjadi $60–65 per barel pada akhir tahun.